Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Lainnya


Rolla Fardila, S.Pd.





Hai
semua, kali ini saya ingin berbagi materi tentang Pemberontakan DI/TII di
berbagai wilayah di Indonesia. Pemberontakan DI/TII atau Pemberontakan Darul
Islam/Tentara Islam Indonesia ini terjadi diberbagai wilayah di Indonesia.
Misalnya di Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan
Aceh. Untuk lebih jelas mengenai apa yang terjadi pada peristiwa ini nanti akan
saya berikan kronologis atau peristiwa terjadinya pemberontakan DI/TII
diberbagai tempat tersebut.





Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (sumber : idntrust.com)




Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat





Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dipimpin oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo. Tujuan dari pemberontakan itu tidak lain adalah untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. Kronologis pemberontakan ini berawal dari hasil perjanjian Renville yang ditandatangani pada 8 Desember 1947 yang mengharuskan pasukan TNI untuk meninggalkan Jawa Barat dan pergi ke Jawa Tengah.





Namun, pasukan Hisbullah dan
Sabilillah yang dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo tidak mau untuk ikut pergi ke
Jawa Tengah, malahan dia membentuk sebuah pasukan yang mana semuanya dijadikan
sebagai Tentara Islam Indonesia. Markas utama dari pasukan tersebut berada di
Gunung Cepu.





Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat ini bertujuan untuk membangun negara yang berlandaskan Islam dan ingin memisahkan diri dari negara Indonesia, dan pucaknya pada tanggal 7 Agustus 1949 dimana S.M. Kartosuwiryo mengumumkan kalau Negara Islam Indonesia (NII) telah berdiri.





Terdengar kabar kalau Pasukan TNI (Divisi Siliwangi) kembali dari Yogyakarta yang mana membuat NII menjadi terancam, maka dari itu, Divisi Siliwangi tersebut dicegah agar tidak masuk ke Jawa Barat. Nah pada akhirnya terjadilah bentrok antara pasukan DI/TII Kartosuwiryo dengan Divisi Siliwangi.





Pemerintah bereaksi melihat hal tersebut. Awalnya, pemerintah melakukan pendekatan persuasif, yaitu mengajak untuk berunding dan menyelesaikan masalah dengan tanpa senjata. Namun karena tidak terjadi kesepakatan, akhirnya pemerintah bertindak tegas dengan melakukan operasi militer.





Tahun 1960 dilancarkanlah Operasi Pagar Betis di Gunung Geber oleh pasukan TNI dan bantuan rakyat. Operasi tersebut berhasil memukul mundur pasukan Pemberontakan DI/TII Jawa Barat dan akhirnya Kartosuwiryo tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.





Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah





Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah terjadi setelah masa pengakuan kedaulatan. Walaupun terjadi di tempat yang terpisah, namun saling berhubungan antara satu dengan yang lain. Amir Fatah, seorang tokoh yang menjadi komandan tempur di Jawa Tengah yang diangkat oleh Kartosuwiryo memimpin pemberontakan tersebut. Untuk meredam pemberontakan tersebut, Divisi Diponegoro membentuk pasukan khusus yang diberi nama Benteng Raiders. Di Kudus dan Magelang, Batalion 426 yang menyatakan diri bergabung dengan DI/TII menjadi masalah yang serius. Nah untuk menumpak pemberontakan tersebut, dibentuklah operasi yang diberi nama Operasi Merdeka Timur dengan Letnan Kolonel Soeharto sebagai pemimpinnya.





Pemberontakan DI/TII di Kalimantan
Selatan





Ibnu Hajar, mantan Letnan dua TNI adalah tokoh penting yang berkaitan
dengan Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan ini. Ia membentuk sebuah
gerakan yang diberi nama KRYT (Kesatuan Rakyat yang Tertindas) yang mana
menjadi salah satu gerakan dibawah naungan DI/TII Kartosuwiryo





Gerakan ini sudah banyak membuat
kekacauan di Kalimatan Selatan. Tercatat sejak Oktober 1950 gerakan ini sudah
mengacau dengan menyerang pasukan TNI dan berbuat keributan.





Pemerintah tidak tinggal diam
melihat hal tersebut. Awalnya pemerintah memberikan inisiatif baik yaitu dengan
menyuruh gerakan KRYT untuk menyerahkan diri. Namun justru hal tersebut
dimanfaatkan oleh Ibnu Hajar untuk memperoleh senjata.





Akhirnya pemerintah bertindak tegas
dengan menjalankan operasi militer. Akhirnya, Ibnu Hajar berhasil ditangkap
pada bulan Juli 1963 dan dijatuhi hukuman mati.





Pemberontakan DI/TII di Sulawesi
Selatan





Pemberontakan DI/TII di Sulawesi
Selatan ini sudah terjadi sejak tahun 1952 dengan Kahar Muzakar sebagai
pemimpinnya. Awal mula munculnya DI/TII di Sulawesi Selatan adalah ketika Kahar
Muzakar menempatkan laskar-laskar rakyat Sulawesi Selatan ke dalam APRIS
(Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat). Ia berkeinginan untuk menjadi
pemimpin APRIS di wilayah Sulsel.





Untuk menjalankan keinginannya
tersebut, ia menuliskan surat ke pemerintah pusat pada tanggal 30 April 1950.
Namun, usulannya tersebut ditolak oleh pemerintah pusat dengan alasan
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kebijakan pemerintah tersebut
membuat Kahar Muzakar tidak puas, dan pada tanggal 17 Agustus 1951 ia beserta
pasukannya melarikan diri ke hutan.





Pada tahun selanjutnya, Kahar
Muzakar menyatakan kalau Sulawesi Selatan telah menjadi anggota dari DI/TII.
Pemerintah bereasksi dengan melakukan operasi militer. Pada akhirnya, pada
bulan Februari 1965 Kahar Muzakar berhasil ditembak mati dan bulan Juli 1956
orang kedua setelahnya bisa ditangkap. Hal itu mengakhiri Pemberontakan DI/TII
di Sulawesi Selatan.





Pemberontakan DI/TII di Aceh





Daud Beureueh, adalah sosok penting dalam pemberontakan DI/TII di Aceh
ini. Daud Beureueh menjadi pemimpin dari pasukan Aceh semasa perang
kemerdekaan. Semula Aceh yang dijadikan sebagai daerah istimewa, diturunkan
statusnya menjadi keresidenan di bawah provinsi Sumatra Utara. Hal itu ditentang
oleh Daud Beureueh.





Selanjutnya, Ia memproklamirkan
kalau Aceh menjadi bagian dari DI/TII dibawah pimpinan Kartosuwiryo. Pemerintah
bereaksi dengan mengadakan 2 pendekatan, yaitu pendekatan persuasif dan operasi
militer.





Akhirnya, pemerintah berhasil mengambil hati rakyat Aceh dan pada akhirnya Daud Beureueh diberi Amnesti dengan catatan bersedia kembali ke tengah masyarakat. Hal itulah yang menandai berakhirnya pemberontakan DI/TII di Aceh.


Posting Komentar untuk "Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Lainnya"